Selasa, 07 Mei 2013

Hubungan Islam dengan Fisika

Secara umum, fisika tetap berada dalam kerangka Aristotelian selama delapan ratus tahun dari tradisi ilmiah Islam. Fisika dipahami sebagai sebuah cabang ilmu pengetahuan yang berurusan dengan perubahan. Perubahan dipelajari dalam kerangka umum Aristotelian mengenai bentuk dan materi, potensi dan aktualitas, dan empat penyebab. Peripatetik Muslim mengikuti Aristoteles dalam pemahaman fisika. Mereka memegang posisi (meskipun tidak eksklusif) dominan dalam studi perubahan.


Pandangan Peripatetik tersebut terkadang ditentang oleh para ilmuwan, filsuf, dan ulama yang juga menentang pandangan Aristoteles dengan berbagai argumen. Ilmuwan independen seperti Abu Bakr Zakaria Al-Razi dan Al-Biruni menentang Peripatetik yang seagama itu mengenai argumen ilmiah dan filosofis, teolog seperti Abu Al-Barakat Al-Baghdadi (w. 1023) dan Fakhr Al-Din Al-Razi (w. 1209) menentang pandangan Aristoteles dari perspektif agama, filsafat, dan merumuskan pandangan waktu, ruang, dan kausalitas yang berbeda dari Aristoteles. Dalam konsepsi non-Aristotelian ini, ditemukan karakteristik Islam yang berbeda mengenai alam, baik dalam cara penciptaan sesuatu maupun jalan perubahan yang terjadi. Sebagai contoh, teori keseimbangan diusulkan Abu Al-Fath Abd Al-Rahman Al-Khazini (1115-1130) dalam risalah utamanya Kitab Mizan al-Hikma (The Book of the Balance of Wisdom) yang berkaitan dengan konsep pusat gravitasi dengan cara non-Aristotelian. Ia juga terus menyempurnakan karya pada hidrostatika dan mekanika dari Al-Biruni, Al-Razi, dan Omar Khayyam.

Anti-Aristotelian pada saat itu dalam filsafat Islam dan ilmu pengetahuan menghasilkan ide-ide baru tentang waktu, ruang, sifat materi, dan cahaya, tapi adanya ketegangan antara mereka yang berpegang pada pandangan Aristotelian dan yang anti-Aristotelian tidak dapat dianggap sebagai ketegangan antara “Islam” dan “Sains” seperti yang kadang-kadang ditekankan sebagai model konflik; melainkan ketegangan yang sebagian besarnya terbatas pada dunia filsafat, terutama difokuskan pada keyakinan filosofis Aristoteles yang bertentangan dengan keyakinan Islam dan tidak memiliki dasar ilmiah.

Penentangan arus ini muncul dalam tradisi Islam di awal gerakan terjemahan, yaitu pertengahan abad kedelapan, dan menjadi sangat kuat pada pertengahan abad kesebelas ketika hampir seluruh karya filosofis dan ilmiah Yunani telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.

Cabang fisika lainnya—seperti optik, mekanika, dan dinamika—termasuk karya-karya standar para ilmuwan Muslim dan filsuf dalam jumlah yang banyak tetap berdasarkan doktrin Aristotelian, konsep-konsep non-Aristotelian mengenai materi, ruang, waktu, dan kausalitas juga banyak bermunculan.

Sebagai contoh, Mutakallimun mengembangkan teori atomistik, di mana pada saat  itu atom dan kausalitas hanya disandarkan secara langsung pada kreativitas Tuhan. Dan ide ekstrim lainnya, Al-Razi mengusulkan gagasan ruang mutlak yang mendorong munculnya pandangan Newtonian dan hal itu bertentangan dengan Aristoteles. Isu epistemologis dan metodologis tertentu yang penting mengenai dinamika: kemungkinan dan diperkuat oleh abstraksi (adanya ruang hampa dengan kondisi energi), probabilitas atau reliabilitas matematika (Hall 2001, 319-20).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar